B. Setelah 1942 sampai Dasawarsa 1960-an


Sayang sekali judul-judul tulisan yang dihimpun oleh Mieke Schouten dalam bukunya Minahasa and Bolaangmongondow: an annotated bibliograpy 1800-1942 hanya sampai pada yang terbit tahun 1942 (walaupun Schouten sendiri sebenarnya tidak konsisten dengan batas tahun 1942 ini, karena ternyata di dalam bukunya itu ia juga mendaftarkan satu-dua karangan yang terbit sesudah itu). Lalu, bagaimana dengan tulisan-tulisan setelah itu? Sesungguhnya, tidak mudah mendaftarkan apalagi mendokumentasi tulisan-tulisan mengenai Minahasa sejak tahun 1942 itu. Mieke Schouten berhasil menyusun bibliografi mengenai Minahasa karena tulisan-tulisan yang ditelusurinya itu terarsip dengan baik di berbagai perpustakaan dan pusat arsip di Negeri Belanda. Sementara kebanyakan tulisan setelah itu masih bersifat tulisan lepas yang tersebar dan malah banyak yang tidak dibukukan atau dipublikasikan. Nanti tahun 1950-an mulai ditemukan lagi publikasi-publikasi berbentuk buku mengenai Minahasa, khususnya yang dikerjakan oleh orang-orang pribumi Minahasa. H.M. Taulu, J.F. Malonda dan F.S. Watuseke berada di deretan nama-nama penulis pada waktu itu. Salah satu buku H.M. Taulu yang terbit di dekade 50-an berjudul Adat dan Hukum Adat Minahasa (Tomohon, 1952), sedangkan satu-satunya buku dari J.F. Malonda yang terkenal berjudul Membuka tudung dinamika filsafat-purba Minahasa (Manado: Jajasan Badan Budaja Wongker-Werun, 1952). Juga termasuk dalam deretan terbitan di dekade 1950-an adalah buku dari J.G.Ch. Sahelangi, Ringkasan Hikajat Tanah dan Bangsa Minahasa Purbakala serta dengan Hikajat Bangsa Bentenan jang menduduki bahagian tenggara tanah Minahasa (Makassar: Pertjetakan Makassar, 1950).


Pada awal tahun 1961 terbit buku Sejarah Minahasa oleh F.S. Watuseke. Buku ini secara singkat tapi padat mendaftarkan secara kronologis peristiwa-peristiwa yang terjadi di Minahasa mulai dari “zaman purba” sampai dengan tahun 1954, yaitu ketika Bitung dijadikan pelabuhan samudra. Yang sangat menarik dari buku ini – khususnya dalam edisi ke-2 yang terbit 1968 – adalah lampiran-lampirannya, yang di antaranya mendaftarkan perjalanan sejarah pembagian tanah Minahasa dalam walak-walak dan kemudian dalam distrik-distrik sejak kira-kira tahun 1679 sampai 1966. Menyinggung tahun 1960-an, tidak boleh dilupakan buku kecil dari E.V. Adam, Kesusasteraan, Kebudajaan dan Tjerita-tjerita Peninggalan Minahasa (Manado: Pertjetakan Negara, 1967). Buku kecil ini lebih merupakan kapita selecta mengenai kebiasaan-kebiasaan dan kepercayaan-kepercayaan tua serta aturan-aturan tata-krama di Minahasa tempo dulu. Ada juga pantun-pantun dan “keahlian” mendengarkan bahasa burung.


F.S. Watuseke kemudian menjadi seorang penulis ahli mengenai Minahasa. Beberapa tulisannya malah diterbitkan dalam majalah Bijdragen tot de Taal-, Land- en Volkenkunde van Nederlansch-Indië (yang biasa disingkat BKI) terbitan KITLV di Negeri Belanda, baik dalam bahasa Belanda maupun bahasa Inggris. Salah satu tulisannya itu berjudul “Oude gebruiken bij zwangerschap en geboorte in Tondano” (BKI 126, 1970). Sesuai judulnya, tulisan ini berbicara tentang kebiasaan-kebiasaan tua di sekitar kehamilan dan kelahiran di Tondano, di mana dijelaskan, misalnya, apa artinya si maali-ali dan si matimea’ sampai pada nama dan jenis berbagai macam rempah-rempah yang diperlukan oleh seorang ibu untuk mandi setelah melahirkan (seperti Karimenga, Kajutumetow, Muntè pepontolen, dst.). Juga tidak ketinggalan di bagian akhir tulisannya adalah sebuah gambar tentang bagaimana tampaknya buaian bayi asli setempat.


Tahun 1968 Kurt Tauchmann, seorang peneliti Jerman, dipromosi doktor di Universitas Köln dengan disertasi berjudul Die Religion der Minahasa-Stämme (Nordost-Celebes/Sulawesi). Barangkali inilah disertasi pertama tentang Minahasa yang ditulis dalam bahasa Jerman. Melalui studinya ini Kurt Tauchmann coba merekonstruksi agama dan kepercayaan asli suku-suku di Minahasa dari masa pra-pengaruh Eropa. Buku ini terdiri dari enam bab, masing-masing membahas kosmologi, kepercayanaan dan ajaran tentang dewa-dewa, gambaran dan konsepsi mengenai jiwa, kepemimpinan agama, perilaku keagamaan, dan terakhir mengenai sistem agama Minahasa. Studi ini sangatlah komprehensif dengan tetap menjaga kepelbagaian di antara suku-suku di Minahasa itu sendiri. Yang menarik, Tauchmann menyebut Minahasa sebagai “Mythenmuseum”. Di wilayah Indonesia bagian Timur, katanya, tidak ada daerah lain di mana ditemukan aneka ragam mitos yang bersaing seperti di Minahasa.

Komentar